Jumat, 03 Maret 2017

Morfologi Tumbuhan (bunga)

MORFOLOGI  BUNGA (FLOS)

1. Struktur Bunga 
Struktur bunga secara umum terdiri dari tangkai bunga, dasar bunga, perhiasan bunga dan organ reproduktif. Tangkai bunga  (pedicellus) merupakan bagian bunga yang memiliki sifat batang yang jelas, umumnya berwarna hijau. Dasar bunga (receptaculum) merupakan ujung tangkai bunga yang melebar. Perhiasan bunga  merupakan modifikasi dari daun, yang terdiri dari kelopak (kalyx) dan mahkota (corolla). Sedangkan organ reproduktif terdiri dari organ reproduktif jantan yang disebut benang sari (stamen) dan organ reproduktif betina yang disebut putik (pistilum).

2.  Jumlah  dan Letak Bunga
Biasanya suatu jenis tumbuhan memiliki banyak bunga, sehingga disebut sebagai planta multifloris. Meskipun demikian, pada beberapa tumbuhan ada kalanya hanya memiliki satu bunga saja. Tumbuhan seperti ini dikenal dengan tumbuhan berbunga tunggal (planta unifloris). Tumbuhan berbunga tunggal dapat ditemukan pada bunga lili (Lilium sp), bunga coklat (Zephyranthus rosea), tapak dara (Cataranthus roseus) dan sebagainya.
Jika dalam satu batang tumbuhan hanya memiliki satu bunga,  bunga biasanya terletak di ujung batang. Jika bunga dalam satu batang berjumlah banyak, biasanya bunga terletak di ujung batang atau cabang-cabangnya, dapat pula terletak di ketiak daun. Jadi menurut letaknya, bunga dibedakan menjadi bunga di ujung batang (flos terminalis) dan bunga di ketiak daun (flos axilaris). Bunga pada ujung batang misalnya pada bunga bunga tapak dara (Catharantus roseus), kumis kucing (Ortisiphon sp), soka (Ixora javanica), kembang merak (Caesalpinniea pulcherrima) dan sebagainya. Sedangkan bunga di ketiak daun misalnya pada bunga kenanga (Cananga odorata), rosela (Hibiscus sabdarifa) dan sebagainya.
            Selain itu, bunga  dapat tersusun terpencar atau terpisah-pisah (flores sparsi), Ada juga yang berkumpul membentuk suatu rangkaian dengan susunan yang beraneka ragam, sehingga  dikenal dengan bunga majemuk (anthotaxis atau inflorescentia),

3. Bunga Majemuk  (Anthotaxis atau Inflorescentia)

            bunga majemuk merupakan kumpulan beberapa bunga tunggal dalam satu tangkai bunga.

    3.1. Struktur bunga majemuk
a.      Bagian-bagian yang bersifat seperti batang atau cabang.
Struktur ini meliputi ibu tangkai bunga (pedunculus). Ibu tangkai bunga merupakan terusan batang atau cabang yang mendukung bunga majemuk. Selain ibu tangkai bunga ada juga tangkai bunga (pedicellus), yaitu cabang ibu tangkai yang mendukung bunganya. Struktur yang ketiga adalah dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai bunga, yang mendukung bagian-bagian bunga lainnya.
b.      Bagian-bagian yang bersifat seperti daun.
Struktur ini meliputi daun-daun pelindung (bractea), daun tangkai (bracteola), seludang bunga (spatha), daun-daun pembalut (bractea involucralis, involucrum),  kelopak tambahan (epicalyx), daun-daun kelopak (sepalae), daun-daun mahkota (petalae)  dan daun-daun tenda bunga (tepalae). 
Daun-daun pelindung (bractea) adalah struktur serupa daun yang dari ketiaknya muncul cabang-cabang ibu tangkai atau tangkai bunganya.  Daun tangkai (bracteola), yaitu satu atau dua daun kecil yang terdapat pada tangkai bunga. Pada tumbuhan Dicotyledoneae biasanya terdapat dua daun tangkai yang letaknya tegak lurus pada bidang median, sedangkan pada tumbuhan Monocotyledoneae hanya terdapat satu daun tangkai dan letaknya di dalam bidang median, di bagian atas tangkai bunga.  Daun pelindung (bractea dan bracteola) bisa bervariasi bentuknya, mulai dari bentuk biasa sebagaimana daun normal. Bunga majemuk dengan daun-daun pelindung yang mengecil dan berbentuk khas disebut bracteate. Bunga majemuk dengan daun pelindung tipe bracteate dapat ditemukan pada tumbuhan    Pedicularis verticillata
Ada juga daun majemuk yang tidak memiliki daun pelindung. Bunga seperti ini disebut  ebracteate. Tumbuhan dengan ebracteate dapat ditemukan pada wisteria (Wisteria sinensis),
Tipe terakhir adalah bunga majemuk yang memiliki daun-daun pelindung yang sangat besar, hampir tidak dapat dibedakan dengan daun normal. Tipe seperti ini disebut frondose. Bunga dengan tipe frondose dapat ditemukan pada Aristolochia clematitis
Seludang bunga (spatha) adalah daun pelindung yang besar, yang seringkali menyelubungi seluruh bunga majemuk waktu belum mekar, misalnya terdapat pada bunga kelapa (Cocos nucifera). Sedangkan daun-daun pembalut (bractea involucralis, involucrum) adalah  sejumlah daun-daun pelindung yang tersusun dalam suatu lingkaran, misalnya  pada bunga matahari (Helianthus annuus).  Kelopak tambahan (epicalyx), yaitu bagian-bagian serupa daun yang berwarna hijau, tersusun dalam suatu lingaran dan terdapat di bawah kelopak, misalnya pada bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), kapas (Gossypium sp), rosela (Hibiscus sabdarifa), waru (Hibiscus tiliaceus) serta tumbuhan dari familia Malvaceae.
Daun-daun kelopak (sepalae) merupakan daun-daun penyusun kelopak bunga (kalyx), biasanya berwarna hijau. Sedangkan daun-daun mahkota atau daun tajuk (petalae) merupakan daun-daun penyusun mahkota bunga (corolla), biasanya berwarna-warni. Daun-daun tenda bunga (tepalae) adalah daun-daun penyusun tenda bunga (perigonium), jika kelopak dan mahkota bunga tidak dapat dibedakan, karena memiliki bentuk dan warna yang sama.

      3.2. Jenis-jenis Bunga Majemuk
a.      Bunga Majemuk Tak Berbatas
 (inflorescentia racemosa, inflorescentia botryoides atau inflorescentia centripetala) dicirikan oleh ibu tangkai yang tumbuh terus, dengan cabang-cabang yang dapat bercabang lagi atau tidak, dan mempunyai susunan “acropetal” (semakin muda semakin dekat dengan ibu tangkai). Ciri lainnya adalah jika mekar berturut-turut dari bawah ke atas. Jika dilihat dari atas, nampak bunga mulai mekar dari pinggir dan yang terakhir mekarnya ialah bunga yang menutup ibu tangkainya, sehingga dinamakan inflorescentia centripetala.
Bunga majemuk tak berbatas dapat dibedakan berdasarkan keadaan ibu tangkainya. Bila ibu tangkai tidak bercabang-cabang, maka bunga majemuk tak  berbatas dapat berbentuk  tandan, bulir, untai, tongkol, payung, cawan, bongkol dan periuk.
Bunga berbentuk tandan (racemes atau botrys), jika tangkai bunga nyata, duduk pada ibu tangkainya, dengan kata lain  satu tangkai bunga mendukung satu  bunga saja di ujung. Contoh : kembang merak (Caesalpinia pulcherrima), bunga pagoda (Clerodendrum japonicum), kumis kucing (Ortosiphon sp) dan sebagainya. Sketsa dan contoh bunga tandan dapat dilihat pada gambar 
Bunga majemuk berbentuk bulir (spica), pada dasarnya mirip seperti bunga majemuk tandan. tetapi bunga tidak bertangkai, misalnya bunga jarong (Stachytarpheta jamaicensi), piperomia (Piperomea sp) dan sebagainya.
Bunga berbentuk untai atau bunga lada (amentum), seperti bulir tetapi ibu tangkai hanya mendukung bunga-bunga yang berkelamin tunggal. Bunga bulir dapat ditemukan pada sirih (Piper betle), ekor kucing (Acalypha hispida) dan sebagainya.
Bunga tongkol (spadix),  seperti bulir tetapi ibu tangkai besar, tebal dan seringkali berdaging. Bunga tongkol dapat dilihat pada keladi (Caladium sp), bunga betina pada Jagung  (Zea mays). Pada suatu bunga tongkol sering kali terdapat seludang bunga yang indah dan menarik warnanya, yang selain berguna untuk menarik serangga, juga merupakan perangkap bagi serangga yang mengunjungi bunga ini.
Bunga payung (umbellla) dapat dilihat dari ujung ibu tangkai yang mengeluarkan cabang – cabang yang sama panjangnya. Masing-masing cabang mempunyai suatu daun pelindung pada pangkalnya. Karena pangkal daun sama tinggi letaknya, maka tampak seakan-akan pada pangkal cabang-cabang tadi seperti terdapat daun-daun pembalut.
Bunga payung terdapat pada tumbuhan suku Umbelliferae, misalnya: daun kaki kuda (Centella asiatica). Pada suatu bunga payung cabang-cabang ibu tangkai masing-masing dapat mengulangi cara percabangan ibu tangkainya, sehingga dengan demikian terjadi bunga payung yang bertingkat, yang disebut bunga payung majemuk, seperti terdapat pada wortel (Daucus carota
Bunga cawan (Corymbus atau anthodium) merupakan suatu bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya lalu melebar dan merata, sehingga mencapai bentuk seperti cawan. Pada bagian itulah tersusun bunga-bunganya. Pada pangkal bunga majemuk yang demikian ini biasanya terdapat daun-daun pembalut (involucrum). Bunga bunga cawan dapat ditemukan pada kenikir (Cosmos caudatus), bunga krisan (Chrysantemum indicum), bunga matahari (Helianthus annuus) dan sebagainya
Bunga bongkol (capitulum) merupakan bunga majemuk yang menyerupai bunga cawan, tetapi tanpa daun-daun pembalut, dan ujung ibu tangkai biasanya membengkak, sehingga bunga majemuk seluruhnya berbentuk seperti bola. Bunga bongkol dapat ditemukan pada familia Mimmosaceae seperti putrid malu (Mimmosa pudica), petai cina (Leucaena glauca) dan sebagainya
Bunga periuk (hypanthodium) dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu bunga dengan ujung ibu tangkai menebal, berdaging, mempunyai bentuk seperti gada, sedangkan bung-bunganya terdapat meliputi seluruh bagian yang menebal tadi, sehingga tercapai bentuk bulat atau silinder. Daun-daun pembalut tidak ada. Bunga majemuk seperti ini dapat ditemukan pada cempedak (Artocarpus champadee), nangka (Artocarpus integra) dan sebagainya.
Bentuk kedua dari bunga majemuk periuk adalah jika ujung ibu tangkai menebal, berdaging, membentuk badan yang menyerupai periuk, sehingga bunga-bunga yang semestinya terletak padanya lalu terdapat di dalam periuk tadi. Bila dilihat dari luar, bunga tampak seperti buah. Bunga sama sekali tak tampak dari luar. Bunga seperti ini dapat dilihat pada Ficus  sp.
Bunga majemuk tak terbatas yang memiliki ibu tangkai yang bercabang-cabang,   dapat  dibedakan menjadi bunga malai, malai rata, payung majemuk, tongkol majemuk  dan bulir majemuk.
Bunga berbentuk malai (panicula), jika ibu tangkainya mengadakan percabangan secara monopodial, demikian pula cabang-cabangnya sehingga suatu malai dapat disamakan dengan suatu tandan majemuk. Secara keseluruhan seringkali memperlihatkan bentuk sebagai kerucut atau limas, misalnya bunga mangga (Mangifera indica) dan sebagainya.
Bunga majemuk termasuk malai rata (corymbus ramosus) jika ibu tangkai mengadakan percabangan, demikian pula seterusnya cabangnya, tetapi cabang-cabang tadi mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga seakan-akan semua bunga pada bunga majemuk ini terdapat pada suatu bidang datar atau agak melengkung , misalnya bunga soka (Ixora javanica) dan sebagainya.
Bunga payung majemuk (umbella composite), yaitu suatu bunga payung yang bersusun, dapat pula dikatakan sebagai bunga payung, yang bagian-bagiannya berupa suatu payung kecil (umbellula). Pada pangkal perabangan yang pertama terdapat daun-daun pembalut yang berbentuk lebih kecil (involecellum). Bunga payung majemuk terdapat misalnya pada adas (Foeniculum vulgare), wortel (Daucus carota) dan sebagainya.
Bunga tongkol majemuk, adalah bunga majemuk dengan ibu tangkai yang  bercabang-cabang. Setiap cabang  merupakan bagian dengan susunan seperti tongkol pula. Suatu tongkol majemuk sebelum mekar biasanya diselubungi oleh seludang yang besar, tebal dan kuat. Bunga seperti ini dapat ditemukan pada bunga kelapa (Cocos nucifera) serta bunga pada tumbuhan dari familia Palmae lainnya.  Bulir majemuk, jika ibu tangkai bunga bercabang-cabang dan masing-masing cabang mendukung bunga-bunga dengan susunan seperti bulir, misalnya bunga jagung (Zea mays) yang jantan, dan bunga berbagai jenis rumput (Gramineae). Bunga Majemuk Berbatas
Bunga majemuk berbatas (inflorescentia cymosa) dicirikan dengan ujung ibu tangkai yang  selalu ditutup dengan suatu bunga, sehingga ibu tangkai mempunyai pertumbuhan yang terbatas.  Ibu tangkai ini dapat bercabang-cabang, dan cabang-cabang tadi seperti ibu tangkainya juga selalu mendukung suatu bunga pada ujungnya. Bunga yang mekar terlebih dahulu ialah bunga yang terdapat di sumbu pokok atau ibu tangkainya, jadi dari tengah ke pinggir (jika dilihat dari atas), oleh sebab itu dinamakan  inflorescentia centrifuga.
            Melihat jumlah cabang pada ibu tangkai bunganya, bunga majemuk berbatas dibedakan lagi dalam tiga  tipe. Setiap tipe dicirikan oleh keadaan cabang-cabang ibu tangkai bunganya. Ketiga tipe tersebut adalah bunga majemuk berbatas yang bersifat monochasial, dichasial  dan  pleiochasial.
Pada bunga yang bersifat monochasial,  ibu tangkai hanya mempunyai satu cabang, walaupun ada juga yang lebih (dua cabang). Jika ibu tangkai memiliki lebih dari satu cabang, cabang-cabangnya tidak pernah berhadapan, dan yang satu lebih besar dari pada yang lainnya. Cabang yang besar selanjutnya seperti ibu tangkai setiap kali hanya mengeluarkan satu cabang saja. Bunga majemuk semacam ini ditemukan pada berbagai jenis tumbuhan Monocotyledoneae.
Pada bunga yang bersifat dichasial, dari ibu tangkai keluar dua cabang yang berhadapan. Biasanya terdapat pada tumbuhan dengan bunga berbibir dari familia Labiate. Sedangkan pada bunga yang bersifat pleiochasial, dari ibu tangkai keluar lebih dari dua cabang pada suatu tempat yang sama tingginya pada ibu tangkai tadi, misalnya pada bunga oleander (Nerium oleander).
b.      Bunga Majemuk Campuran
Bunga majemuk campuran  (inflorescentia mixta), yaitu bunga majemuk yang memperlihatkan baik sifat-sifat bunga majemuk berbatas maupun sifat bunga majemuk tak terbatas. Misalnya pada bunga soka (Ixora javanica) seluruhnya merupakan suatu malai rata, tetapi bagian-bagiannya berupa anak payung menggarpu.

4. Perhiasan Bunga
Perhiasan bunga terdiri dari kelopak (kalyx) dan mahkota (corolla). Pada beberapa tumbuhan, kadang-kadang dijumpai adanya kelopak tambahan (epicalyx). Ada juga tumbuhan yang memiliki perhiasan bunga dimana struktur kalyx dan corolla tidak dapat dibedakan. Struktur seperti ini dikenal dengan istilah tenda bunga (perigonium). Masing-masing struktur baik kelopak, mahkota maupun tenda bunga terdiri dari daun-daun kelopak (sepalae), daun-daun mahkota (petalae) dan daun-daun tenda bunga (tepalae), yang berkumpul membentuk kelopak, mahkota dan tenda bunga tersebut.
Berdasarkan susunan daun-daun yang termodifikasi menjadi daun-daun kelopak dan mahkota, bagian-bagian bunga dapat tersusun secara spiral (acyclis), misalnya pada bunga cempaka (Michelia champaka), kaca piring (Gardenia augusta) dan sebagainya. Selain spiral juga tersusun dalam lingkaran-lingkaran (cyclis), misalnya pada bunga terong (Solanum melongena), lili (Lilium sp), teratai (Nelumbia sp) dan sebagainya. Beberapa tumbuhan memiliki bunga yang tersusun sebagian dalam lingkaran, dan sebagian lain terpencar atau menurut garis spiral (hemicyclis), misalnya bunga srikaya (Annona squamosa), sirsak (Annona muricata) dan sebagainya.
   
4.1.Kelopak Bunga (Calyx)
Kelopak  biasanya berwarna hijau, letaknya pada lingkaran sebelah luar bunga. Umumnya berwarna hijau, karena merupakan modifikasi dari daun, dan berfungsi untuk melindungi kuncup bunga yang masih muda. Kelopak terdiri dari daun-daun kecil, dengan jumlah yang beragam. Satu daun kelopak disebut sepala. Jika daun kelopak lebih dari satu, dinamakan sepalae. Jadi kelopak   terdiri dari banyak daun kelopak yang disebut sepalae.
Pada beberapa bunga, ada sering kali kelopak yang ada tidak berwarna hijau, tetapi berwarna-warni menarik perhatian. Kelopak seperti ini dinamakan kelopak pemikat (lokblad). Kelopak pemikat merupakan  modifikasi daun pelindung. Kelopak pemikat dapat ditemukan pada bunga nusa indah (Mussaenda frondosa) dan bugenvil (Bougainvillea spectabilis).
Daun-daun kelopak ada yang berlekatan ada yang tidak berlekatan.  Pada sepalae yang berlekatan, hanya bagian bawah yang berlekatan, sedangkan bagian atasnya  tetap bebas, tampak seperti lekukan-lekukan.
Ada bunga yang memiliki sepalae dengan struktur sedikit saja yang berlekatan.  Sepalae seperti ini disebut  sepalae yang berbagi (partitus). Jika perbandingan yang berlekatan lebih panjang dari bagian yang lepas 1 : 1, sepalae dinamakan bercangap (fissus). Jika perbandingan antara bagian yang berlekatan lebih panjang dari bagian yang lepas, maka sepalae disebut berlekuk (lobatus). Bagian sepalae yang lepas dihitung sebagai jumlah sepalae. Selain berlekatan, sepalae juga terpisah-pisah (tidak berlekatan sama sekali). Sepalae yang terpisah disebut sepala lepas (polysepalus).
4.2. Mahkota Bunga (corolla)
Mahkota bunga merupakan perhiasan bunga yang letaknya di sebelah dalam kelopak. Umumnya berukuran besar, berwarna-warni, berbau harum, sehingga menarik perhatian terutama bagi serangga penyerbuk. Selain menarik perhatian serangga penyerbuk, mahkota bunga juga berfungsi untuk melindungi alat kelamin bunga sebelum terjadinya penyerbukan. Setelah terjadi penyerbukan, mahkota bunga akan gugur dengan sendirinya.
Mahkota bunga terdiri dari daun-daun mahkota (petala).  Satu daun mahkota disebut petala. Jika daun kelopak lebih dari satu, dinamakan petalae. Jadi mahkota merupakan kumpulan dari   terdiri daun-daun mahkota. Dengan kata lain dari banyak daun mahkota  yang disebut petalae.
Sama seperti daun-daun keopak, daun-daun mahkota ada yang berlekatan (sympetalus) atau tidak berlekatan atau saling lepas (dialypetalus). Bahkan beberapa bunga tidak memiliki daun-daun mahkota (apetalus), sehingga disebut bunga telanjang (flos nudus). Daun-daun mahkota  yang berlekatan terbagi atas 3 bagian, yaitu tabung/ buluh mahkota, pinggiran mahkota dan leher mahkota.  Sedangkan daun-daun mahkota yang lepas terbagi atas kuku daun mahkota (unguis) dan helaian daun mahkota (lamina). Kuku daun mahkota merupakan  bagian bawah daun mahkota yang tidak lebar, sedangkan helaian daun mahkota merupakan bagian yang lebar dan biasanya tipis
Mahkota  beraturan mempunyai beberapa bentuk, antara lain berbentuk bintang (rotatus) seperti pada bunga cabe, berbentuk tabung (tubulosis) seperti pada bunga matahari, terompet (hypocrateriformis) seperti bunga jantan papaya, berbentuk corong (infundibuliformis) pada bunga kecubung, bentuk lonceng (campanulatus) pada bunga ubi rambat dan sebagainya. Pada mahkota berbentuk setangkup tunggal, dapat berbentuk bertaji (calcaratus) seperti taji ayam seperti pada anggrek dan  pada familia Labiatae, serta bunga dengan mahkota seperti kupu-kupu (papilionaceus). Mahkota yang berbentuk kupu-kupu  memiliki karakteristik tersendiri. Bentuk mahkota ini hanya dimiliki oleh bunga pada tumbuhan kacang-kacangan (familia Papilionaceae).
Pada bunga kupu-kupu, daun mahkota ada lima saling berlepasan. Satu pasang berbentuk perahu yang, terletak di bagian bawah, disebut lunas (carina). Di hadapan  lunas terdapat sebuah petala berukuran sangat besar, disebut bendera (vexillum). Sedangkan dua petalae diantara lunas dan bendera masing-masing  membentang ke samping disebut sebagai sayap (alae).
4.3. Tenda Bunga (Perigonium)
Beberapa bunga memiliki kelopak dan mahkota yang memiliki bentuk dan warna yang sama, sehingga sukar dibedakan. Struktur seperti ini dinamakan tenda bunga. Setiap tenda bunga terdiri dari daun-daun tenda bunga (tepala).  Satu daun tenda bunga disebut petala. Jika daun tenda bunga lebih dari satu, dinamakan tepalae. Jadi tenda bunga merupakan kumpulan dari  daun-daun tenda bunga, dengan kata lain  terdiri dari banyak daun tenda bunga  yang disebut tepalae.
Daun-daun tenda bunga ada yang berlekatan dan ada yang tidak berlekatan. Daun tenda bunga dibedakan menjadi dua, yaitu yang menyerupai kelopak, jika berwarna kehijauan, seperti pada familia Palmae dan yang menyerupai mahkota, jika berwarna-warni dengan bentuk yang menarik, seperti pada familia Liliaceae.

5. Organ Reproduktif Bunga
Organ reproduktif pada bunga merupakan alat perkembang-biakan. Organ reproduktif jantan adalah benang sari (stamen), sedangkan organ reproduktif betina adalah putik (pistillum).
5.1. Benang Sari (Stamen)
Benang sari terdiri dari kepala sari (anthera), tangkai sari (filamentum) dan penghubung antara ruang sari (conecticum). Pada kepala sari terkandung sel-sel kelamin (gamet) jantan, yang disebut androecium.  Kepala sari adalah bagian benang sari yang terdapat di ujung tangkai sari. Di dalam kepala sari terdapat dua ruang sari (theca). Setiap theca terdiri dari 2 ruang kecil (loculus), yang berisi tepung sari (pollen). Tangkai sari merupakan bagian benang sari yang berbentuk seperti pipa, yang mendukung kepala sari. Sedangkan penghubung ruang sari merupakan bagian tangkai sari yang berfungsi menghubungkan dua theca. Pada benang sari sama banyak atau kurang dengan daun mahkota,  digolongkan menjadi dua jenis. Jenis yang pertama adalah  benang sari berhadapan dengan daun kelopak atau berseling dengan daun mahkota (episepal). Jenis lainnya adalah benang sari yang berhadapan dengan daun mahkota, berseling dengan daun daun kelopak (epipetal).
Ukuran panjang benang sari dapat dibedakan menjadi dua, yaitu didynamus dan tetradynamus. Benang sari didynamus adalah benang sari dengan perbandingan ukuran panjang dengan pendek 2 panjang dan 2 pendek. Sedangkan tetradynamus adalah benang sari dengan perbandingan ukuran 4 panjang dan 2 pendek.
5.2. Putik (Pistillum)
Putik tersusun dari tiga struktur, yaitu kepala putik (stigma), tangkai putik (stylus) dan bakal buah (ovarium). Kepala putik merupakan bagian putik yang paling atas. Tangkai putik merupakan saluran yang menghubungkan kepala putik dengan bakal buah. Bakal buah sendiri adalah bagian putik yang membesar dan duduk di dasar bunga.  Menurut jumlah daun buahnya, putik dibedakan menjadi putik tunggal (simplex) dan putik majemuk. Putik tunggal hanya memiliki satu daun buah. Sebaliknya, putik majemuk memiliki lebih dari satu daun buah. Menurut letaknya pada dasar bunga, bakal buah  ada yang menumpang (superus), jika bakal buah duduk di atas dasar bunga, sehingga letaknya lebih tinggi dari dasar bunga. Ada juga yang setengah tenggelam (hemi inferus), jika letaknya pada dasar bunga yang cekung, sehingga letaknya lebih rendah dari tepi dasar bunga. Sebagian dinding bakal buah berlekatan dengan dasar bunga. Selain itu bakal buah ada yang tenggelam (inferus), jika bagian samping bakal buah berlekatan dengan dasar bunga.

6. Rumus dan Diagram Bunga
6.1. Menentukan Rumus Bunga .Rumus bunga merupakan gambaran tentang keadaan suatu bunga. Rumus bunga menunjukkan keadaan kelopak bunga, mahkota, organ-organ reproduktifnya dan simetrinya. Bila bunga merupakan bunga majemuk, untuk menghitung rumus bunga dilakukan terhadap satu bunga saja, yang mewakili keseluruhan bunga majemuk.
6.2. Membuat Diagram bunga Diagram bunga merupakan gambar yang melukiskan keadaan bunga dan bagian-bagiannya secara skematis, dengan memproyeksikan suatu bunga ke dalam bidang datar. Diagram bunga berisi simbol-simbol yang melukiskan letaknya, apakah di ujung batang (flos terminalis) atau di ketiak daun (flos axilaris). Juga melukiskan jumlah perhiasan dan kelamin bunga, secara berurutan dari bagian terluar hingga bagian yang paling dalam, yang ditunjukkan oleh rumus bunga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar